Selembar Sajak

Ketika Makna denotasi tak mampu dan tak sanggup untuk membuat hati berbicara.. penulis ingin coba ungkapkan melalui apa yang ayah penulis wariskan. Ketika kata konotasi dan kiasan menjadi sesuatu yang lebih melegakan, maka penulis hanya ingin menulis bait per bait,, walau hanya kata-kata yang dianggap tak bermakna….. namun ingin penulis sebuah dedikasi untuk ayah penulis “Drs. Aloysius Dwi Budi Waluyo” di alam nan abadi sana…

 

Sajak Hijau

Dunia menangis
Meradang, dirinya terguncang
Ah, bicara orang-orang adalah candu
Ketagihan suara ketika tangannya meraba jidatnya
Tanpa kala mereka menjadi komedi
Memainkan tubuh dunia di bawah kakinya
Panggung yang hanya satu
Penuh dengan goresan darah

Dunia mengukir sejarah
dengan perang dan darah
Namun Gusti menyimpan harapan
Disamping ketidakjujuran ini
Ada syair polos dan lugu

Dalam ruang
Pintu-pintu terbuka lebar
Kedengaran kemerduan bunyi tembang
Melantun syahdu
Beriramakan derit daun pintu
Banyak tangan
Meminta jawab Tuhan
Sedang ketukan hak sepatu amat lirih
Lirih sekali seperti tak ada bisikan
Semua menjadi serba bisu

Dunia akhirnya sependapat
Kita simpan hari saja
Menunggu pintu-pintu ruang tertutup
Dari dalam
Akhirnya terdengar jeritan
Syair-syair muda belia.

 

SAJAK PERTEMUAN

satu detik kita tak jadi berpisah
kemerdekaan bukan hanya satu bentuk
dan perpisahan tidaklah mutlak
bagi setiap kematian

kita bukan pula tembok beteng yang membisu
hanya kata diam
ketika tangan-tangan menempeli pamflet
matahari yang mengeringkan lem
melarikan kertas-kertas
bersama tiupan angin

cobalah berlindung di batas senja
gelap merayap memantulkan cahaya jingga
malam merumahkan kembali
bersenggama dengan bumi

Seusai Gerimis Malam-Malam

diatas para masih tersisa kenikmatan
sepi memagutnya perlahan
tak ada bulan jatuh
meminang malam menjelang larut
hanya jerit bayi terlepas dari tetek ibunya
dan sapi dikandang melenguh panjang
menjadi nyanyian pualam

aku melihatmu berjalan di beranda
mengetok-ngetok kaca jendela
diam sesaat membaringkan kesepian
di antara jejeran embun
bulan masih belum bertandang
sesekali tiupan angin membawa bau kenanga
meronce kabut diatas pilar-pilar kemerahan

%d bloggers like this: